Sabtu, 07 Maret 2009

Sesederhana apakah aku memandang?

Life is didn't always about me, satu ungkapan dari seseorang yang kemaren ga' sengaja melintas di telingaku, sekilas aku menjadi sedikit berfikir, menjadi sejenak bermuhasabah, selama ini apa yang kian menjadikan aku merasa tersisih, menjadikan aku merasa sangat sendiri, menjadikan aku merasa tak didengar, Muhasabah lima menitku melahirkan sebuah jawaban, yang mana jawaban ini mungkin terlahir hanya untuk melipur saja, tapi untuk senentara ini sudahlah cukup, melintas satu ketenangan yang berkata "Jangan pernah merasa tak didengar, karna ketika kita merasakan hal tersebut, hati kita sedang dalam keadaan tak mendengar, bahwa diri kita sedang diperhatikan, lebih dari sekedar didengarkan". Hal itu membuat aku sedikit tenang dan untuk sementara hendak memahami.
Jangan hanya ingin dipahami, tapi cobalah untuk belajar memahami, ini juga merupakan selentingan kata yang tertuju langsung padaku, santai diucapkan, namun kuat menguras fikiran. Adakah selama ini aku selalu begitu? pertanyaan yang memang harus kuujikan pada diriku. Selama ini aku tak pernah berfikir sejauh itu, selama ini aku menjalani keseharian dengan rutinitas perasaan yang seakan selalu hampir sama, aku jarang menciptakan hal baru, karena aku berusaha menikmati, dan sebatas menikmati tanpa mencoba mencari kenikmatan. Mungkin disitu letak kesempatanku untuk menjadi lupa, lupa akan ada banyak perasaan yang menunggu dan tanpa mau ditunggu (atau sebaliknya), aku memang harus banyak belajar, belajar melihat dengan kacamata yang lebih luas, belajar mendengar dengan pendengaran yang lebih tajam, dan belajar merasa dengan perasaan yang lebih dalam. Menjadi aku yang berusaha memahami, bahkan untuk setiap hal sekecil apapun.
Tentang maaf yang terasa enggan & terimakasih yang terlupakan, aku masih seperti orang kebanyakan, yang demikian sulitnnya melontarkan kata maaf, padahal dengan kata itu banyak hal yang bisa terjadi, sebuah amarah akan sedikit mereda, sakit hati yang menjadi tak sakit lagi, senyum yang kemudian tersungging kembali, dan masih banyak hal lain. Aku menjadikan aku yang tak bisa melompati egoku sendiri, menyulitkan diri untuk lontarkan maaf, sedang hati sangatlah memahami. Bukan tak mau, tapi tak bisa. Bukan tak bisa, tapi tak kuasa. Ksadaran telah aku kantongi berhari-hari, tapi kata ini tak jua terlontar. Seperti ucapan terimakasih yang kian terlupakan, tanpa sedikitpun maksud untuk melupakan. Kata agung yang siap menggantikan penghargaan itu kian saja terombang-ambing, menjadi hayalan dan tak terlontarkan, tak ada waktu dan kesempatan menjadi dalih terbaik dan tertepat unuk perlahan menjadikannya hilang. Ini semua tak semestinya terjadi jika tidak karena ego menjadi raja
Ketika ego menjadi raja, Saat dimana hasil kerja otak dan hati tidak kembali diakui, untuk melangkahi ke-egoisan diri dan menjadikan kemurnian keruh kerontang. sebenarnya angin tak pernah menghasilkan badai, dan ombak tak pernah hantam karang dengan kerasnya. Tapi keadaan yang terjadi menjadikan sekitar seolah keadaan pasca badai, pasca tsunami dan pasca gempa, wajar jika semua bertanya-tanya, kemudian siapkah aku untuk sekedar mengelak? Mengelak ternyata tak semudah berlari, untuk itu aku lebih memilih pergi.

1 komentar:

  1. Sometime we inget, sometime we lupa
    Sometime we semangat, sometime we down
    Sometime we sehat, sometime we sakit
    But anytime we know that we not alone

    BalasHapus

Me

facebook aku